Adanya hari yang berganti , dengan terik sinar
mentari. Mengasingkan diri disudut desa. Dengan suara anak ayam yang tak
berhenti berkeciap. Sunyi sepi dan hanya itu yang dirasakan. Kalaupun lebih
bunyi induk ayam bergumam tak jelas sambil bersenandung dengan senang sambil
mematuk pelet dengan semangat. Atau sesuatu yang berada disemak-semak belukar
dengan bunyi kresek-kresek yang mungkin hanya sebuah kadal yang mengais rejeki.
Lambaian bayangan matahari pun jatuh di tirai jendela cokelat itu. Siang terik
bagi seseorang yang mengahiskan waktu liburan dengan ongkang-ongkang kaki. Tak
ada yang menarik untuk diceritakan. Atau seseorang yang selalu bermimpi menjadi
apa yang dia cita-citakan tapi tak pernah mencoba. Bagai pungguk merindukan
bulan kata orang. Ya, seorang yang kesepian haus akan cinta yang bergejolak.
Cerita pun berawal saat pagi hari. Ketika waktunya bangun dan yang lainnya bersiap. Bunyi klontang klontang. "Harusnya aku bangun" batinku. Kamu kalah dengan hal hal lainnya. Kamu kalah dengan melawan kemalasan dirimu sendiri.
Cerita pun berawal saat pagi hari. Ketika waktunya bangun dan yang lainnya bersiap. Bunyi klontang klontang. "Harusnya aku bangun" batinku. Kamu kalah dengan hal hal lainnya. Kamu kalah dengan melawan kemalasan dirimu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar